jump to navigation

Balada PNS Perempuan Juli 22, 2008

Posted by Abdee in PNS Juga Manusia.
Tags: ,
trackback

“Kapan keterwakilan perempuan di jajaran pejabat eksekutif akan anda wujudkan. Paling tidak seperti kuota perempuan di legislatif”.

Pertanyaan tersebut meluncur dari seorang panelis dalam sebuah Debat Calon Gubernur di TV One beberapa hari lalu. Waduhh, waduh, maaf ya… saya tidak setuju jika di kalangan pejabat eksekutif atau pemerintahan dibuat aturan minimal sekian persen harus perempuan.

Saya tidak anti dengan perempuan yang menjabat kepala seksi, kepala bidang, kepala dinas atau malah kepala daerah. Bahkan kalo 100% persen pejabat pemerintahan dijabat oleh perempuan pun saya ndak masalah.

Syaratnya, perempuan tersebut memang layak menjabat, dan bukan karena kuota atau jatah-jatahan. Jangan samakan dengan kuota perempuan di legislatif yang memang mewakili suatu populasi tertentu. Di Pemerintahan hal yang dikedepankan tentu saja adalah prestasi kerja, dan kemampuan.

Permasalahannya, sepanjang yang saya temui, teman-teman sekerja saya yang perempuan sering terjebak pada dilema antara urusan pekerjaan dan rumah tangga. Dan mereka kadang tidak bisa keluar dari dilema tersebut, sehingga kinerjanya menjadi tidak optimal.

Bagi saya, daripada mempersoalkan berapa persen perempuan di pemerintahan, lebih penting mempersoalkan keberpihakan seorang pejabat terhadap permasalahan perempuan. Tanpa peduli apapun jenis kelamin pejabat tersebut. Ya toh.

Komentar»

1. aGoonG - Juli 23, 2008

Pemeritahan emang rumit
Kalu sebagai rakyat adanya cuma manut saja.

@aGoonG
yaa… jangan cuma bisa manut… biar kalo lompat ke sumur, nggak ikut ikutan lompat

2. hanny - Juli 23, 2008

setuju. saya setuju jika melihat kualitas seseorang sebagai pribadi dan kapasitasnya untuk memangku jabatan tersebut, terlepas dari apakah dia lelaki atau perempuan. karena dengan sistem kuota, bisa saja perempuan yang tidak terlalu mahir dalam bidang tersebut kemudian dicemplungkan ke sana, hanya dengan alasan “memenuhi kuota”. menurut saya, ini malah merendahkan perempuan, kesannya perempuan kok dipandang tak mampu bersaing langsung dengan para lelaki tanpa perlu disokong sistem kuota…

@hanny
akurrr….

3. zaki habibi - Juli 23, 2008

setubuh…eh, setujuuu..
kebijakan kuota perempuan adl turunan paket kebijakan “titipan”.. terutama dari kelompok2 neoliberal, antara lain yg berbendera IMF, Bank Dunia (World Bank), WTO, dll.. kenapa? karena pemerintah didesak ini-itu, misal: menaikkan indeks manusia, social justice dan gender equity..

sayangnya, praktiknya akhirnya cuma jd “kejar tayang” pelaksanaan kebijakan.. pdhl tujuan utama yg lebih penting adl meningkatkan kapasitas semua org, entah itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, dari ind bagian barat maupun dari timur.. rak yo ngono to?!!

@zaki habibi
ngonooo….. weh, analisane wong LSM kie pancen beda..

4. Fa - Juli 23, 2008

yap, setuju banget! Saya pikir di dunia kerja (termasuk di pemerintahan itu) memang sudah seharusnya manusia dilihat sbg manusia, bukan sebagai manusia laki2 apa perempuan.😉

@Fa
apalagi kalo ada setengah laki laki dan setengah perempuan ya mbak

5. andi - Juli 23, 2008

Saya baru tau kalo ternyata ada penjatahan juga untuk urusan gender PNS… *hihihi…. katrok*

kalo memang seperti itu berarti ada yg ga beres nih, implementasi emansipasi yang salah, mungkin pemahaman pemerintah tentang emansipasi masih dibawah rata-rata kali yah…

@andi
di pemerintahan ndak ada mas…. hal itu yang kemudian ditanyakan oleh seorang panelis (dosen perempuan) dalam debat calon gubernur. Kalo di DPR (Calon Legislatif) memang ada. Demikian juga dalam kepengurusan parpol. Kuotanya 30%.

6. rep66 - Juli 23, 2008

iya..benar..benar..(manut wae lah)
btw, piye kabare dul..abdul???
ket kapan kowe ning kickoff?? waa…di situ kan perkumpulan suhu2ku **********************…
wah wah…sungguh beruntung njenengan bisa kerja bareng mereka
btw lg, kapan lulus??😉

@rep66
huahahaha….. salah identifikasi kowe, nan.

7. masmoemet - Juli 23, 2008

setuju … yg ptg kerjane bener …

@masmoemet
yap, ayo kerja kerja kerja… jangan ngrumpi aja

8. simplyah - Juli 23, 2008

Haduh….kalo yang beginian saya gak ngerti deh. Tapi kemaren2 temen2 aktivis sempet ngomporin saya untuk mencalonkan diri jadi walikota. Jadi walikota ?? Gilaaaa…yang bener ajaaaa…..!!

*eh..tapi boleh juga ya…tangan saya udah gatel nih ingin membenahi kota tercinta :p

@simplyah
ayo maju jadi walikota…. aku ikut nyoblos wes….blusss.
tapi kalo jadi walikota nggak boleh hibernate lho.

9. khai - Juli 23, 2008

Ternyata dilemanya memang spt itu, antara tugas dinas dan rumah tangga sering dicampur adukan. yah sudahlah… k-lo dia muslim, ikuti saja titah Rosul

@khai
hmm…. ikuti titah ya. Kalo tidak mengikuti sebenarnya juga ndak papa kan.

10. ngodod - Juli 23, 2008

terkadang kita butuh apa yang dinamanakan diskriminasi positif.

@ngodod
hmm…. diskriminasi positif. baru denger… tapi menurutku pendapat yang menarik.

11. latree - Juli 23, 2008

apalagi dirimu! aku aja yang perempuan ga setuju ‘maksa’ agar perempuan jadi pejabat, jadi anggota dewan, dlsb. atas nama emansipasi?
wanita bisa berarti tanpa harus memaksakan diri seperti itu, punya lahan sendiri-sendiri…
aku tetep penganut arrijaalu qowamuna ‘alannisaa’.
laki-laki pemimpin bagi wanita.
1. wanita itu umumnya berpikir bukan berat ke rasionalnya, tapi perasaan. kalo pun ada yang bisa, 1000:1. ga cocok jadi pemimpin.
2. pasti pikirannya terbagi dengan urusan rumah.
3. …. dan selanjutnya, cari sendiri deh.

@latree
terima kasih mbak. menambah wawasan saya..

12. sluman slumun slamet - Juli 24, 2008

ya toh?
TOH
😀

@sluman slumun slamet
dasar pak dosen nyambi kyai!

13. akuhayu - Juli 24, 2008

sepakat!!
meskipun aku juga seorang perempuan
^_^
lagipula yang terlalu banyak cincong soal kesetaraan gender
(menurutku) justru adalah mereka yang mengakui kalo laki-laki dan perempuan itu tidak setara
^_^

@akuhayu
we eh…. begitu ya bu hay… akur sama suami

14. ladyna - Juli 24, 2008

Sy setuju sy komen Mbak Latree
Walaupun bagaimanapun, sekuat dan sehebat apapun wanita
Tetap saja, laki2 adalah pemimpin bagi wanita…

;D

@ladyna
hmm…. berat juga jadi laki-laki.

15. trendy - Juli 24, 2008

setujah!
lebih baiak daripada setuju!
wekekekke

@trendy
waikewaikewaike… setujuah jugiak!

16. achoey sang khilaf - Juli 24, 2008

yup yu yup
kenapa harus selalu dipikirkan dari persentase
kenapa ga dari kualitas🙂

@achoey sang khilaf
yap, kalo dari kualitas akhirnya kan emansipasi alami ya.

17. ndop - Juli 24, 2008

kalo secara kodrat, perempuan itu mengasuh, bukan memimpin…

…IMHO, CMIIW…

@ndop
hati hati mas…. kalo menurut ilmu gender. Mengasuh, dan memimpin bukan kodrat. Kodrat perempuan tuh melahirkan, menyusui anak, dan hal hal lain yang ndak bisa dilakukan laki-laki.

18. sapimoto - Juli 25, 2008

Cuti melahirkan, satu bulan sebelum dan dua bulan setelah melahirkan, akan menghambat kinerja perempuan ketika berada pada sebuah posisi yang sangat penting. Bukan tidak setuju jika dipimpin oleh seorang perempuan, jika memang layak kenapa tidak?

@sapimoto
ya, bisa dimengerti. tapi biasanya pemimpin perempuan sudah cukup umur dan melewati fase2 reproduksi. Meski ada juga yang masih muda.

19. Laporan - Juli 25, 2008

Betul, nti malah menjabat modal seksi, eh kalau wanita jadi kepala seksi ndak apa-apa.

@Laporan
Hmm, punya atasan seksi… perlu dicoba tuh

20. My - Juli 25, 2008

yupz.. bener.. daripada mikirin presentase..

@My
presentase ato presentasi?

21. tukangobatbersahaja - Juli 25, 2008

meskipun sekarang zaman emansipasi wanita tapi tetap saja untuk jabatan strategis tetap di dominasi lelaki.

no gander but choose by quality🙂

22. tukangobatbersahaja - Juli 25, 2008

meskipun sekarang zaman emansipasi wanita tapi tetap saja untuk jabatan strategis tetap di dominasi lelaki.
no gender but choose by quality🙂

@tukangobatbersahaja
inilah tantangan buat para perempuan

23. akuhayu - Juli 25, 2008

btw kang Abdee ;p
gmn tho caranya bikin tulisan biar bisa more..more gitu
ndeso yo
‘hehhehe

@akuhayu
wis tak jawab di blogmu
btw, pertanyaanmu koyo pertanyaan bojomu.

24. phery - Juli 25, 2008

aku seneng karo postinganmu mas. Terlihat dewasa kalo gini. Tapi mending aku ra ketemu koe wae. Mesti ra beres. jiakakaka

@phery
Asemikk. Digoleki si Boy koe…. Meh diperkosa.

25. JalanSutera.com™ - Juli 25, 2008

seharusnya emansipasi itu dilaksanakan secara natural saja. kalo memang wanita bisa bersaing dengan pria, saya yakin kaum adam juga nggak akan keberatan kok. tapi, kalo ada wanita yang berkuasa hanya karena memenuhi kewajiban prosentase jumlah tertentu, yang kasihan justru rakyat. begitu.

@JalanSutera.com™
begitu. ehh, setuju.

26. kucingkeren - Juli 25, 2008

setuju..yg penting kompetensi…….

@kucingkeren
yakk. Kompeten di bidangnya.

27. kishandono - Juli 25, 2008

saya sih setuju-setuju aja adanya PNS permpuan, tapi jangan dijatah. enak banget dong kalo gitu. susah-susah saya berkompetisi malah ada yang melenggang karena jatah. ga bener itu.

@kishandono
iya mas iya… saya sependapat

28. rudyahud - Juli 25, 2008

nah…ibu saya juga PNS lho…guru SD…hehehehe

@rudyahud
halah, sama mas.

29. hendra - Juli 25, 2008

salam kenal aja deh, n tolong kunjungi blogQ juga ya.

@hendra
blognya gak bisa kebuka mas…

30. okta sihotang - Juli 25, 2008

sekarang mah udah emansipasi..😉

@okta sihotang
konon katanya iya sih…

31. Jiban - Juli 26, 2008

nggak ikutan ah…

@Jiban
ikutan juga ndak papa kok mas

32. Edi Psw - Juli 26, 2008

Memang perempuan itu banyak halangannya. Tapi kalau mereka mampu, kenapa tidak.

@Edi Psw
tapi tidak berarti harus ada jatahnya kan pak.

33. geiztia - Juli 26, 2008

<>

dengan kata lain, legislatif boleh ya menggunakan kuota gitu..?..

@geiztia
kalo saya sih bilang boleh. Karena legislatif mewakili populasi.

34. Fa - Juli 26, 2008

*menunggu ‘balada’ selanjutnya*😀

@Fa
sabar mbakk…. orang sabar disayang Tuhan.

35. L 34 H - Juli 27, 2008

walau perempuan tidak bisa dipandang remeh tapi emang banyak faktor yang menjadi ganjalan

seperti saat lagi haid emosinya akan sangat amat memganggu apalagi kalo mau mengambil keputusan besar, belum lagi cuti hamil, cuti melahirkan, izin urusan anak dan rumah tangga. hehehe

@L 34 H
yap, tapi kan nggak setiap waktu kan… hanya pada momentum momentum tertentu.

36. julia - Juli 27, 2008

setuju bgt.. sbg perempuan, saya malu bgt denger tuntutan emansipasi, tp kualitas ga masuk kategori..
bos baru nya temen perempuan, yg terjadi malah bikin kacau semua urusan kantor.. datang siang kadang sore, kalo pun ada di ktr, org2 hrs nunggu dia slesai diakupuntur dulu, ato nunggu dia treadmil, kl sore ga mau tanda tangan apapun walo itu surat penting *pdhl itu tjd krn dia nya jg datang udah sore..*

parah! seisi ktr smua nya trauma dg bos perempuan. mereka2 yg perempuan jg malu & hilang kesempatan untuk maju dlm karir krn gara2 dia.. parah!

@julia
waduhh… kok jadi kaya gitu ya

37. jengtika - Juli 27, 2008

ya… setujuh… tho?

pandangan setiap orang tentang eman-si-sapi kadang menyebalkan sayah… terlalu dibelokkan dari arti sebenarnyah…

tinggal menjaga agar saya sendiri tidak terjerumus dengan benda yang bernama emansipasi itu…

@jengtika
amin. masih melajang di ternate mbak?

38. Juminten - Juli 28, 2008

yeah… that’s why, aku pengen kerja di rumah aja.
maksudnya suatu hari nanti bisa tetep kerja, sekaligus tetep bisa ngurus rumah dan keluarga.
pengennya sih buka usaha sendiri gitu.
yg kerja di luar cukup suami aja lah…😛

@Juminten
saya juga pingin tuh kerja di rumah… sayang ndak kecapai

39. Rindu - Juli 28, 2008

Buat saya pribadi [sekali lagi pribadi] menjadi perempuan itu amanahnya dirumah bukan dikantor, dijalan apalagi di partai .. kalau semua ingin jadi laki2, lalu dimana pembagian fungsinya… ALLAH menciptakan perempuan untuk menjadi istri dan ibu, bisa sambil bekerja tapi tugas utama adalah itu.

*sok tahu mode ON*

@Rindu
hmmm…. gitu ya mbak. Tapi kalau tetep berkarya di kantor, di jalan, atau di partai kan nggak ada salahnya kan.

40. daaan - Juli 28, 2008

Wah quota penuh tapi jangan malahan jadi ladang baru buat anggota2 yang suka main perempuan😀

@daaan
kalo wakil rakyatnya perempuan, “si baju putih” jadi kurang laku.

41. theloebizz - Juli 28, 2008

setujuuu bangeeettzzz,,,,,
lah wong sy sendiri begitu ditawarin posisi pejabat langsung tak tolakk abisnya sadar diri
*posisi pejabat kepala rumah tangga maksudnye*
ahahahahah…:mrgreen:

@theloebizz
ya, padahal layak dicoba lho

42. monsterikan - Juli 29, 2008

soal kuota itu istilahnya politik afirmatif. kelihatannya emang tidak adil, tetapi diskriminasi yang ada memaksa adanya kuota itu karena faktor-faktor non teknis di luar lingkaran itu yang diskriminatif terus ada dan sulit dilawan karena hal-hal seperti itu kadang nggak terdeteksi. situasinya jauh lebih ga adil toh ketimbang politik afirmatif itu sendiri?

kalau kondisi dunia ini ideal sih emang politik afirmatif ya ga ada.

@monsterikan
masalahnya kan kondisi dunia ini nggak ideal

43. kidungjingga - Juli 29, 2008

ayo kerja… kerja…. kerja…!!!
jangan ngblog mulu…!😀

@kidungjingga
hehehe…. ini juga sambil kerja kok.

44. rahmah - Juli 29, 2008

Wah ini tema yg ckp menarik..kebetulan sy skrg d kantor jg lg ditugasi utk membuat publikasi tentang data gender,kesetaraan antr laki2 n perempuan dlm bbg bdg..meski sebenarnya sy jg krg setuju dg emansipasi..krn mmg bnr’arrijalu qowwamuna ‘ala nissa’..
pny referensi ttg data gender?

@rahmah
kan banyak buku tentang gender. atau tanya mbah gugel.

45. gunawanwe - Juli 30, 2008

setuju mas, kalo memang mampu ya silahkan.. gak usah pake kuota-kuotaan segala

@gunawanwe
akurr

46. LutFi - Juli 31, 2008

halo temennya mas fernan! salam kenal.. tulisannya bagus.. ku masukin link boleh tak?

@LutFi
salam kenal juga…
silahkan, dengan senang hati.

47. pipiew - Agustus 2, 2008

wiw, tapi kenyataannya adalah Siapa yang Berkuasa maka dialah yang berhak menentukan Pejabat (dengan mengesampingkan kemampuan dan kapasitas), miris ya..

48. natazya - Agustus 4, 2008

yeap… saya juga sama sekali ga setuju kalau pekerjaan musti berkelamin… kan ngga… tapi juga ga bener kalo minta keringanan whatsoever dengan dalih sebagai perempuan atau lelaki…

ih ih ih

ini mah jujur ya… saya pengeeen sekali jadi PNS karena banyak liat PNS yang mulai kerja jam 9an eh jam 2 udah beredar di jalanan… gila ya asik banget idupnya!!! tapi calon suami ga setuju :p

49. marsudiyanto - Agustus 5, 2008

Yang payah bukan laki2 berapa atau perempuan berapa. Yg repot di kantor saya Mas. Ada 4 pasang suami istri, yang kalau ijin keperluan pasti sepasang…

50. Bagoez - Agustus 18, 2008

Cow cew sm aj yg pnting brkualitas.kl nuruti emansipasi mlh bikin pusing.emg cewek2 mau gantiin krjaan cow,misal manjat genteng kl bocor,ronda malam,nggali kuburan,yg umumnya dilakuin ama cow2.mau ga hai para emansipator???

51. wesiati - September 2, 2008

itu kan wacana…dari ‘calon’ lagi. bisa aja asal njeplak. kok sudah repot. setahu saya yang ada ya ‘halo effect’. siapa dekat dia dapat. gender mah nggak ada hubungannya. meski cewek dan pinter, dulu saya di struktural juga gitu-gitu aja (narsis…). di lingkungan saya sih nggak ada unsur prestasi, tuh. yang ada unsur sodara atau teman atau mantan pembantu. hehehe….sekarang saya dah jadi guru kok. nggak ada hubungannya sama gender lagi.

@wesiati
bukan dari calon mbak… tapi dari panelis.
mbak sekarang jadi guru ya?…. selamat deh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: